Penggunaan konsep penanda atau warisan sejarah dalam pameran arsitektur mampu menghadirkan narasi yang kuat mengenai perjalanan peradaban ruang di Indonesia. Dalam perhelatan pameran ARCH:ID terbaru, Ikatan Arsitek Indonesia mengangkat tema sentral “Tetenger” untuk membingkai seluruh pameran dan instalasi bangunan. Berdasarkan publikasi resmi dari IAI Situbondo, konsep filosofis ini dirumuskan oleh tim kurator berdedikasi tinggi yang dipimpin oleh para perancang visioner tanah air. Penjelajahan makna “Tetenger”—yang berarti penanda waktu, tempat, atau peristiwa—menjelma menjadi panduan desain yang merubah wajah pameran menjadi sangat puitis dan bermakna mendalam.
Latar belakang diangkatnya konsep “Tetenger” oleh tim kurator didasari oleh keinginan untuk mengajak masyarakat berefleksi atas jejak-jejak arsitektur yang telah membentuk identitas bangsa. Di tengah gempuran modernisasi dan homogenisasi bentuk bangunan, arsitektur sering kali kehilangan jiwa dan keterhubungan dengan sejarah tempatnya berdiri. Konsep “Tetenger” hadir sebagai pengingat bahwa setiap karya arsitektur seharusnya menjadi penanda zaman yang merespons konteks sosial, budaya, dan lingkungan di sekitarnya.
Tim kurator menerjemahkan konsep ini ke dalam tata ruang pameran yang membagi area ke dalam beberapa zona penanda, mulai dari jejak arsitektur vernakular, era kolonial, hingga penanda masa depan yang ramah lingkungan. Setiap instalasi dirancang menggunakan material kayu, bambu, dan baja yang merepresentasikan ketahanan dan adaptasi bentuk. Pendekatan naratif ini memungkinkan pengunjung tidak hanya melihat objek fisik, tetapi juga merasakan cerita dan emosi yang tertuang di dalam tiap rancangan.
Gagasan konseptual pameran yang kuat ini disosialisasikan secara meluas ke seluruh anggota profesi hingga ke pelosok daerah. Melalui dukungan jejaring komunikasi yang dibangun bersama [IAI Sumenep](https://iaisumenep.org], para arsitek daerah diajak untuk menggali “Tetenger” atau penanda lokal di wilayah masing-masing sebagai sumber inspirasi merancang. Gerakan ini membangkitkan kebanggaan atas kekayaan warisan arsitektur daerah yang sangat beragam di Indonesia.
Implementasi konsep “Tetenger” dalam pameran ARCH:ID sukses memberikan pengalaman baru dalam mengapresiasi pameran arsitektur di Indonesia. Pameran ini berhasil membuktikan bahwa pendekatan filosofis lokal dapat dikemas secara modern dan interaktif bagi publik luas. Kehadiran instalasi berbasis “Tetenger” ini menjadi daya tarik utama yang mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga penanda sejarah di kota-kota mereka.
Kesimpulannya, perumusan konsep “Tetenger” oleh tim kurator IAI merupakan terobosan pemikiran yang memperkaya khazanah arsitektur Indonesia. Visi konseptual ini memberikan arah baru bagi perancangan ruang yang menghargai masa lalu sekaligus siap menyongsong masa depan. Informasi lebih terperinci mengenai ulasan kuratorial, dokumentasi karya pameran, serta agenda kegiatan organisasi dapat Anda pelajari di portal resmi IAI Trenggalek. Mari kita ciptakan penanda-penanda arsitektur baru yang membanggakan bagi bangsa.